Kompleksitas Berdoa: Melemahkan Diri di HadapanNya tapi Kemudian Menguat

Dalam pembahasan luas dan panjang tentang iman, sederhananya iman adalah kondisi kita bisa menerima bahwa Allah Tuhan kita. Bukan hanya sekedar kedudukanNya sebagai Tuhan yang kita akui, tapi berikut juga keagunganNya, seluruh tindaklakuNya, segala ketentuanNya bagi kita sebagai pribadi dan bagi kita seluruh alam semesta.

Dan dalam pembahasan lanjutan tentang iman juga nantinya akan berkaitan dengan berdoa. Setelah sejauh dan seluas kita mengenalNya maka kita terdorong dengan segenap kesadaran bahwa kita sepantasnya hanya kepada Dia meminta dan mengadukan apa yang kita rasa. Kita pantas merendahkan diri hanya kepadaNya yang Maha Tinggi, kita pantas mengecilkan diri hanya di hadapanNya yang Maha Agung, dan kita pantas melemahkan diri di bawah kekuasaanNya Yang Maha Kuat.

Namun pada kenyataan hari-hari ini pembahasan iman dan doa perlu dikritisi dan dituntut pembahasan lebih lanjutnya, lebih jelasnya, dan lebih aplikatifnya. Saya menangkap sebagian besar orang--atau bahkan mungkin saya sendiri mulai merasa jengkel ketika kita punya keluh kesah, kegelisahan, keinginan, cita-cita, harapan, dan yang diinginkan adalah berupa solusi dan jalan keluar, namun bukannya mendapat jawaban berupa saran dan pengarahan apa yang bisa saya jalani justru malah disinggung soal iman dan kurang berdoa. Come on, man! Saya juga beriman dan saya juga pasti berdoa.

Nada kritis tentang doa atau ibadah juga bisa kita temui pada paragraf delapan artikel ini, tapi di sana disebutnya dengan istilah tirakat dan puasa. “….masak kepingin punya uang harus puasa? Kalau kepingin punya uang ya bekerjalah!”. Atau bahkan kita kerap mendengar nada-nada kritis tentang doa yang lebih keras lainnya.

Saya bukan meragukan iman dan doa, tapi saya menginginkan pembahasan yang lebih aplikatif.

Bersamaan dengan keresahan saya tentang ini, pelan-pelan saya coba mencari jawaban, secara langsung maupun menggali-gali makna dari penjelasan tersirat, dari ustadz di pembahasan kitab-kitab ulama terdahulu, baca buku, postingan-postingan di sosial media, atau sok-sokan merenungi pengalaman-pengalaman pribadi, dan sebagainya. Barangkali saya sudah menemukan jawabannya dan coba ikut andil untuk menjelaskan pembahasan ini. Atau kalau ternyata belum terlalu bisa menjelaskan, setidaknya saya sudah usaha.

Bagi saya, berdoa bukan hanya ritual dan merapal bermacam-macam bacaan apalagi secara egois meminta segala yang kita pinta dikabulkan, berdoa sangat-sangat lebih jauh dari itu semua. Berdoa adalah kondisi sakral dan situasi sangat mendalam yang di sana sekujur tubuh kita duduk dan tunduk, segenap jiwa raga berserah kepadaNya. Seraya menyebutkan apa yang kita pinta, di sana terbuka ruang dan waktu untuk quality time dengan diri kita untuk menenangkan diri, menetralkan diri dari pengaruh-pengaruh jelek, membangun semangat, hingga menginternalisasikan beberapa hal seperti misalnya bagaimana cara kita berlaku aktif untuk mencapai hal tersebut, apa yang mesti kita lakukan, menyusun strategi, bahkan saat itu pula kita menyiapkan diri kita untuk meerima apapun hasilnya.

Seperti misalnya berkeinginan mendapatkan pekerjaan, ketika berdoa juga dibarengi menanamkan semangat di dalam diri untuk menjalani seleksi, menyusun strategi, menyiapkan profesionalitas diri agar menarik dan terpilih dari beberapa kandidat lain, sampai paling puncaknya menyiapkan diri untuk menerima apapun hasilnya.

Saya pikir di hari ini pembahasan doa memang harus lebih diarahkan bahwa doa adalah pendorong yang kuat bagi kita agar lebih berlaku aktif dalam mencapai apa yang kita minta. Setelah menyelam pada kondisi spiritual tersebut diharapkan seharusnya kondisi jiwa raga si pendoa lebih ringan, kondisi hati dan pikirannya lebih lapang untuk bisa berpikir jernih, dan lebih punya semangat yang kuat untuk melangkah menggapai harapannya.

Hal ini sama sekali tidak bermaksud menyandarkan keberhasilan usaha kita dan menyampingkan kehadiran Allah. Hal ini justru menjadi pembuktian tingkat tinggi kita sebagai hamba yang memang Allah berikan kita kemampuan untuk mandiri.

Allah selalu bersamamu.

Terus bangun dan asah jiwa ragamu.

Akan sampai pada tiap-tiap tujuanmu.

Dan hanya ke hadapan Dia-lah tujuan kita kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Tumbuh dalam Bahtera Cinta dan Ku Labuhkan pada Pelabuhan Kasih Sayang nun Jauh Di Sana; Nanda Rosianti

Sudah Dua Tahun Mengajar dan Masih Berlanjut, Selamanya