Aku Tumbuh dalam Bahtera Cinta dan Ku Labuhkan pada Pelabuhan Kasih Sayang nun Jauh Di Sana; Nanda Rosianti
Setelah kuat-kuat akarku ditanam oleh ayah ibuku, aku dibiarkan tumbuh ke atas manapun yang aku mau.
Setelah
jauh-jauh aku dibawa berpetualang dengan bahtera ayah dan ibuku, aku dilepas
melalang buana ke samudera manapun yang aku tuju.
Setelah
hangat-hangat aku disentuh, dirangkul, dipeluk,... disuapi dan dijejali
nilai-nilai prinsipil di rumah indahku, aku diberi kebebasan menjalani
kehidupan bagaimanapun yang aku tentu.
Aku
terus tumbuh dengan memang dasar aku lebih senang bebas, tidak suka diatur,
terbiasa dengan jalan pemikiran sendiri Yang penting tidak menyalahi
nilai-nilai yang bagiku itu prinsipil.
Aku
juga tidak suka dikomentari, sebab aku juga tidak suka mengomentari apapun yang
tidak aku suka. Aku lebih suka berkesimpulan bahwa memang itu aku tidak suka
maka aku tidak akan seperti itu.
Aku sangat mengamini apa yang dituangan band Efek Rumah Kaca dalam liriknya,
“Kami
hanya akan mencipta segala apa yang kami cinta; bahagia.”
Biar
tidak terlalu mengawang, mari aku tuangkan sedikit pandanganku tentang cinta. Bagiku
cinta berkaitan dengan perasaan dan juga lebih berkaitan dengan ketertarikan,
entah lahir memang dari dalam hati itu sendiri atau dipengaruhi faktor
eksternal sehingga kita memiliki ketertarikan terhadap suatu hal tertentu. Tapi
saya lebih suka memandang cinta berdasarkan perasaan dan ketertarikan yang
bersumber dari dalam hati yang memang paling murninya kesesuaian dengan diri.
Kemudian
cinta juga kupandang sebagai siklus perkembangan mulai dari suka; di mana
ini tahap awal ketertarikan kita terhadap sesuatu, berkembang menjadi sayang;
di mana hal yang kita suka tadi sudah mulai memasuki fase kita ingin terus
berada pada sesuatu tersebut dan tidak ingin jauh sedikitpun, dan pada
puncaknya hal yang kita suka dan sayang tersebut mencapai puncaknya, yaitu
cinta.
Pada
makna yang lebih tinggi, kumaknai cinta sebagai situasi di mana kita
sampai mengerahkan jiwa dan raga untuk apa-apa yang kita cinta.
Dalam
hidup yang sangat luas ini kita terus menghadapi berbagai macam realitas, tak
mungkin kita ikuti semua, capek. Maka itu saya merasa perlu merumuskan apa yang
menjadi kesenangan saya. Dan maka itu pula saya akan menjalani dan mendalami
yang saya senangi tersebut, sampai pada puncaknya; bahagia. Sebagaimana lirik
di atas. Sedangkan apa yang tidak kusuka, barangkali harus tetap dijalani,
sekedar untuk profesionalitas dalam hidup. Dan biasanya dalam menjalani hal-hal
tersebut tidak bertahan lama.
Aku
hanya menjalani apa yang apa yang aku cinta. Aku akan all out untuk itu, tidak
kuhitung untung rugi. Seperti misalnya aku membangun pergerakan di rumahku
dengan nama Damaica, kubangun atas nama cinta. Segala modal, ide, dan apapun
bentuk usaha untuk membangunnya akan kulakukan. Tidak kupedulikan bagaimana
diriku akan terkuras di dalamnya. Tidak kupedulikan juga sudah sebatas mana
perkembangan pergerakan, atau bahkan kalau pergerakan ini terus berada dalam
titik-titik sulit aku tidak peduli, yang kutahu hanya akan terus kujalani
dengan segenap jiwa dan ragaku.
Bicara
tentang cinta juga mungkin tak bisa dipungkiri soal lawan jenis, karena aku
laki-laki berarti di titik ini kita akan berbicara tentang perempuan. Karena di
dunia ini hanya tersaji dua jenis; laki-laki dan perempuan, berarti dalam
sehari-hariku sering menemui perempuan, di manapun, dan itulah realitas yang harus
aku terima. Laki-laki memiliki ketertarikan dengan perempuan pun adalah
realitas yang tidak terelakkan.
Dari
satu sumber besar “perempuan” memiliki turunan jenis perempuan bermacam-macam, dan
mungkin yang aku temui baru sebagian sangat kecilnya. Tapi bukan itu yang mau
aku bicarakan. Yang akan dibicarakan di sini adalah bagaimana sebegitu seringnya
bertemu dengan perempuan, yang mengundang ketertarikan besar ya hanya yang
sesuai dengan karakter kesenangan kita. Tidak jarang laki-laki dalam jumlah
yang lumayan bersepakat bahwa ada satu perempuan ini cantik, tapi jika bagiku
tidak sesuai dengan ketertarikanku maka aku biasa saja. Dan sebaliknya jika ku
melihat satu perempuan yang sesuai dengan karakter ketertarikanku maka tetap
kusuka, tidak peduli apapun.
Dari
seluruh perempuan yang entah berapa jumlahnya dan tak tahu berapa jumlah kata
ocehannya yang harus dikeluarkan setiap hari, kusudikan nama perempuanku
terkasih untuk diukir dalam tulisanku yang sangat-sangat biasa ini. Nanda
Rosianti namanya, perempuan hebat yang mau meluangkan bagian besar hidupnya
dihabiskan bersama lelaki entah macam apa ini, yang aku sebagai diriku saja
geli terhadap diri sendiri.
Dia
kutemui pada masa kuliah, masa di mana kepribadian dan jati diri setiap
individu sudah menuju sekuat-kuatnya. Sejarang dan sesedikit melihatnya saja
bisa kulihat bagaimana di dirinya tersaji kepribadian yang ajeg pada apa yang
dia pegang kuat. Tidak mudah terpengaruh kiri dan kanan. Dan mulailah
perkenalan lebih jauhnya di masa akhir perkuliahan. Dan benar saja, memang dia
sudah tumbuh dengan segala bentuk kehebatan ada pada dirinya. Aku makin jatuh
cinta dan takluk pada dirinya.
Karena
ketertarikanku memang sudah muncul dari awal, pengantar pendekatan tidak butuh
lama. Setelah kupaksa, pada November 2021 hubungan asmara bermula. Dari awal
aku tidak mengumbar apapun, karena memang tidak kupunya. Hanya akan terus
kusajikan ketenangan untuknya. Kemudian berkembang atas kesadaran membangun
hubungan ini dengan santai tapi terbuka untuk jenjang yang lebih serius. Aku
yang kadung terlalu santai beserta bermacam-macam efek sampingnya seperti larut
dalam pikiran kalut yang tidak jelas yang merasa kacau, berantakan, tidak
pantas ini terbangunkan kesadaran untuk membenahi diri. Dan dia sudi menemani. Sekali
lagi, dia sudi menemani.
Sangat-sangat
sudah tidak bisa dihindari bagiku bahwa aku tidak lagi bermain-main dan
bersantai-santai. Hubungan ini sudah tidak lagi fase suka, juga tidak lagi pada
titik sayang,… ini sudah fase cinta pada makna tingginya. Kita terus belajar
menggali dan mengembangkan potensi-potensi terbaik dengan perkembangan hubungan
ini makin meningkat. Proses persilangan perbedaan masing-masing terus
didialogkan untuk menemukan titik temunya dan saling menerima perbedaaan, ini
yang paling penting. Komunikasi terus diperbaiki. Dan lain sebagainya apapun
itu yang dapat menunjang kualitas hubungan. Kubuka lebar-lebar diriku,
pikiranku, jiwa ragaku untuk menampung dan mewujudkan apa yang menjadi
bahagianya. Apa yang menjadi bahagianya adalah bahagiaku. Dialah cintaku, pada
makna tertingginya.
Tanggal
22 September kemarin dia berulang tahun. November nanti hubungan ini genap 4
tahun sudah. Berikut-berikutnya sudah menatap apa yang disebut lamaran,
kemudian puncaknya pernikahan. Aku belum dan tidak akan berhenti, bahkan
mungkin ini belum awalan. Terus kugali potensi cintaku, terus kusajikan bahagia
padamu. Selamanya.
Komentar
Posting Komentar