Ruang dan Waktu

Aku adalah entitas kecil yang hidupnya tak pernah bisa lepas dari ruang dan waktu. Setiap ruang dan waktu selalu menyajikan cerita-cerita tertentu yang mempengaruhi detak, jejak, suasana, rasa, warna dan sebagainya yang ada pada diriku. Sebelum ketercipta saja, kusudah dihadapi cerita-cerita seperti kejadian peniupan ruh kemudian cerita berupa ditanya beberapa pertanyaan dari Rabbku, tak kuingat bagaimana ceritanya, karena memang katanya itu yang merasakan adalah ruhku. Selanjutnya ketika kulahir dan kutumbuh bersamaan dengan tumbuhkembang dan naikturunnya perekonomian dan hubungan pernikahan ayah ibuku yang terbilang masih awal, seperti bisa kubayangkan bagaimana suasana dan rasa yang tersaji saat itu. Dan ruang waktu lainnya di masa lalu yang tidak bisa kuceritakan satu persatu. Tibalah aku di titik sekarang ini, dan kutatap detik-detik berikutnya. Sampai matiku pun terus kuterikat dalam ruang dan waktu. Bahkan pasca mati pun masih terus tersaji cerita-cerita pada diriku di dimensi berikutnya.

Untuk titik-titik berikutnya jelas kupunya rencana ini dan itu. Namun sisi lain yang mesti kupahami adalah sisanya terserah ruang dan waktu.

Detik-detik terus berjalan tanpa pernah mau diinterupsi bahwa aku belum siap dengan datangnya yang deras. Entah dia datang membawa apa, tak pernah kutahu dia berikutnya dengan warna hitam kelabu atau putih cerah. Pada setiap latar tempat juga tak bisa kupaham akan tersaji apa di sana, bisa musibah bisa juga nikmat.

Terkadang, dengan segala keangkuhanku kuberanggapan itu semua kecil. Aku dengan segala daya yang kumiliki akan bisa menghadapi semuanya. Apapun yang terjadi.

Di sisi lain kusadari, jika kuhadapi mereka dalam keadaan lengah dan lemah, apapun yang di luar diriku terasa seperti kekuatan besar yang akan mencabik-cabik diri ini. Tak usah detik datang membawa musibah besar bak tsunami atau mungkin kiamat kubra terjadi hari ini, atau datangnya berita kegagalan aku dalam proses pencapaian cita-citaku,…. kalau sedang tidak mood, di perjalanan naik motor detik datang dengan mengirim hujan deras saja terasa seperti terjadi ledakan bom Hiroshima.

Semuanya ada di luar kendaliku. Mereka terus berada pada dimensi kemungkinan, dan sampai kapan kita terus diintai dengan kemungkinan?

Terus menerus kutingkatkan daya dan mawas diri atas semua itu. yang bisa kukendalikan adalah bagaimana diriku harus bisa sigap menghadapi segala misteri pada tiap-tiap detik berikutnya. Selanjutnya, di sisi lain, demi menyusun kekuatan tambahan dalam mengarungi itu semua, kuperlu berserah pada Dia yang kuyakini Maha Pemilik diriku dan ruang dan waktu.

Seluruh ruang dan waktu beserta segala hal yang ada di dalamnya adalah mutlak dalam kepemilikan dan kekuasaanNya. Atas nama demi keridhoannya, kuberserah diri padaNya…..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Tumbuh dalam Bahtera Cinta dan Ku Labuhkan pada Pelabuhan Kasih Sayang nun Jauh Di Sana; Nanda Rosianti

Sudah Dua Tahun Mengajar dan Masih Berlanjut, Selamanya